PATI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Pati mendapat sorotan. Bukan soal manfaat programnya, tetapi tentang sejauh mana program tersebut mampu menggerakkan ekonomi peternak lokal.
Plt. Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, H. Hardi, Wakil Ketua I DPRD Pati dan Ketua DPRD Kabupaten Pati, Ali Badrudin
Hari ini menerima aspirasi Asosiasi Peternak Ayam Pati yang mengeluhkan belum optimalnya penyerapan hasil produksi ayam lokal oleh dapur MBG.
Para peternak mempertanyakan kapasitas penyerapan dapur MBG yang dinilai belum sebanding dengan produksi peternakan masyarakat.
Bagi peternak, persoalannya sederhana, produksi harus punya pasar yang jelas dan jika program MBG menggunakan bahan pangan dari luar daerah
Sementara produksi peternak Pati belum terserap maksimal, muncul pertanyaan besar, seberapa besar program nasional tersebut benar-benar memberi dampak ekonomi bagi masyarakat Pati?
Ali Badrudin menilai MBG semestinya tidak hanya berhenti pada penyediaan makanan bergizi.
Program tersebut juga harus mampu menjadi penggerak ekonomi lokal dengan melibatkan petani, peternak, pelaku UMKM dan pemasok pangan daerah.
“MBG jangan hanya dilihat dari sisi pemberian makanan bergizi. Ada ekonomi masyarakat yang juga harus diperhatikan. Peternak lokal membutuhkan kepastian pasar,” tegas Ali didampingi Ketua Komisi B DPRD Pati, Muslihan dihadapan Asosiasi Peternak Ayam Pati, Selasa (18/8/26).
Menurutnya, aspirasi peternak akan diperjuangkan melalui jalur DPRD, dan dikoordinasikan dengan pihak terkait
Agar kedepan persoalan serapan produksi dapat menemukan solusi konkret. Pertanyaannya kini bukan sekadar berapa banyak makanan yang dibagikan
Tetapi berapa banyak produk peternak Pati yang ikut terserap melalui program MBG dan bagu para peternak membutuhkan kepastian pasar, bukan sekadar janji penyerapan.
Jika MBG benar-benar ingin menjadi program yang berdampak luas, maka hasil produksi masyarakat lokal harus menjadi bagian penting di dalamnya.(red)












