PATI,TV10NEWSGROUP.COM I Rencana pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati Kota, Kabupaten Pati, memicu polemik serius di tengah masyarakat.
Aksi penolakan warga yang terekam dalam video adu mulut antar warga terkait lokasi pembangunan tersebut, kini viral di media sosial dan menyedot perhatian publik.
Dalam video yang beredar luas, tampak sejumlah warga terlibat perdebatan panas menyikapi rencana pembangunan koperasi yang dinilai mengancam keberadaan lapangan sepak bola desa
Salah satu fasilitas umum utama yang selama ini digunakan untuk olahraga, kegiatan sosial serta berbagai agenda masyarakat.
Sejumlah warga menyatakan keberatan, karena lokasi pembangunan KDMP direncanakan tepat berada di area lapangan desa
Yang selama puluhan tahun menjadi ruang publik penting bagi masyarakat Tambaharjo. Mereka menilai pembangunan tersebut berpotensi menghilangkan ruang aktivitas warga, sekaligus identitas sosial desa.
Menanggapi polemik tersebut, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tambaharjo menyebut peristiwa tersebut hanyalah bentuk miskomunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat.
“Musyawarah desa sudah digelar sejak November 2025 dan pada prinsipnya sudah menyepakati pembangunan KDMP di area lapangan desa,” ujar Yibno, anggota BPD Desa Tambaharjo.
Yibno menekankan, bahwa pembangunan koperasi tidak akan menghilangkan fungsi lapangan. Menurutnya, pembangunan hanya memanfaatkan sebagian kecil lahan
Sementara lapangan sepak bola akan digeser dan justru ditingkatkan kualitasnya.“Lapangan tetap ada.
Justru nanti akan ditata lebih baik, lebih layak, dan lebih nyaman untuk masyarakat,” lanjutnya.
Selain pembangunan koperasi, pemerintah desa juga merancang penataan kawasan pedagang melalui pembangunan ruko baru sebagai upaya meningkatkan perekonomian desa.
Program tersebut disebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam menciptakan pusat ekonomi desa yang lebih tertata dan produktif.
Namun rencana itu juga menuai penolakan dari sebagian pedagang. Mereka mengaku belum mendapatkan sosialisasi yang memadai, serta khawatir kehilangan mata pencaharian akibat relokasi.
“Kami belum pernah diajak bicara secara jelas. Kalau harus pindah tanpa kepastian, kami takut kehilangan penghasilan,” imbuh Sutarno, salah satu warga Desa Tambaharjo.
Menurut Sutarno, keberadaan lapangan desa dan lokasi berjualan saat ini sangat vital bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Ia meminta pemerintah desa membuka ruang dialog yang lebih luas, agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.
Hingga kini, pembangunan KDMP masih berada pada tahap pengukuran lahan, sementara proses penataan kawasan desa terus menjadi perdebatan di tengah masyarakat.
Pemerintah desa diharapkan segera melakukan sosialisasi terbuka dan transparan, agar tidak memicu kesalahpahaman lebih luas”, tambah Sutarno kepada wartawan, Rabu (7/1/26).
Viralnya peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi publik yang baik antara pemerintah desa dan masyarakat, terutama ketika menyangkut ruang publik dan sumber penghidupan warga.(red)










