TV10NEWSGROUP.COM I Pulau Jawa sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai tanah para raja, pendekar, dan empu pembuat pusaka.
Di antara warisan budaya paling sakral adalah keris bukan sekadar senjata tikam, tetapi simbol kekuasaan, spiritualitas, dan legitimasi kepemimpinan, Senin (16/2/26).
Dalam berbagai babad dan cerita tutur, sejumlah keris disebut-sebut sebagai yang paling sakti di tanah Jawa.
Salah satu yang paling legendaris adalah Keris Mpu Gandring. Pusaka ini dikaitkan dengan kisah berdarah di era Kerajaan Singasari dan nama Ken Arok
Konon, kutukan sang empu membuat keris itu menelan tujuh nyawa, termasuk pemiliknya sendiri.
Cerita ini melegenda dalam kitab Pararaton dan menjadi simbol ambisi kekuasaan yang dibayar mahal oleh takdir.
Tak kalah sakral adalah Keris Setan Kober, pusaka yang sering dikaitkan dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Dalam berbagai versi cerita rakyat, keris ini dipercaya memiliki daya gaib luar biasa, bahkan mampu “bergerak” sendiri saat haus darah.
Meski kisahnya sulit diverifikasi secara historis, aura mistisnya tetap hidup dalam imajinasi masyarakat Jawa.
Di tanah Mataram, dikenal pula Keris Kyai Sengkelat, pusaka yang diyakini membawa wibawa dan perlindungan bagi pemimpinnya
Keris ini sering dikaitkan dengan dinasti Kesultanan Mataram, kerajaan besar yang melahirkan dua pusat budaya Jawa Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.
Hingga kini, keris-keris pusaka masih disimpan, dan dirawat dengan ritual khusus sebagai bagian dari identitas budaya.
Secara spiritual, masyarakat Jawa meyakini bahwa keris memiliki “isi” atau tuah. Namun para budayawan menegaskan bahwa kesaktian keris tidak semata pada hal gaib
Melainkan pada filosofi yang dikandungnya: ketajaman nurani, keberanian, serta tanggung jawab moral pemimpin.
Dalam pandangan modern, keris lebih tepat dipahami sebagai karya seni adiluhung, yang sarat simbol.
Pada tahun 2005, keris Indonesia bahkan diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO (tanpa membahas unsur mistisnya), ia menegaskan nilai historis dan artistiknya di mata global.(red)











