JAKARTA – Seminar nasional yang digelar Program Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid menjadi sorotan penting di tengah meningkatnya eskalasi konflik Iran, Israel dan Amerika Serikat.
Forum intelektual bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia? Membaca Konflik Iran, Israel dan AS” pada Jumat (10/4/2026).
Ia menegaskan bahwa ketegangan Timur Tengah tidak bisa lagi dipahami sebagai perang biasa, melainkan sebagai krisis global multidimensi yang melibatkan geopolitik, energi, keamanan internasional, hingga perang narasi digital.
Kaprodi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid, Dr. Yoga Santoso menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi bentuk peperangan baru yang tidak hanya terjadi di medan tempur
Tetapi juga di ruang persepsi publik. Konflik Iran, Israel dan AS disebut sebagai peristiwa global yang dampaknya dapat merembet ke ekonomi internasional
Diplomasi antarnegara, stabilitas energi hingga pembentukan opini publik melalui media dan teknologi.
Dalam diskusi tersebut, tiga narasumber mengulas konflik dari sudut pandang berbeda namun saling melengkapi”, ujar Dr. Yoga Santoso kepada wartawan, Sabtu (11/4/26).
KH. Fathurahman Yahya, analis geopolitik Timur Tengah, menekankan akar konflik yang panjang, mulai dari warisan kolonialisme seperti Perjanjian Sykes-Picot
Rivalitas Sunni – Syiah, hingga perebutan pengaruh atas kawasan strategis Selat Hormuz sebagai jalur energi dunia.
Ia menilai konflik yang terjadi merupakan bagian dari skenario geopolitik pasca Perang Dingin, di mana AS dan Israel berupaya mempertahankan hegemoni Barat dengan menahan kebangkitan Iran sebagai kekuatan regional”, tambah KH. Fathurahman Yahya.
Praktisi komunikasi strategis, Didin Nasirudin menyoroti aspek keseimbangan kekuatan militer dan kemungkinan arah akhir konflik.
Ia menjelaskan bahwa AS dan Israel unggul dalam teknologi serangan presisi serta kemampuan operasi dekapitasi
Namun Iran memiliki ketahanan melalui strategi perang asimetris dan jaringan proksi yang luas. Didin memprediksi kemungkinan tercapainya kesepakatan damai definitif pada pertengahan 2026
Dengan syarat penghentian program nuklir Iran dan normalisasi hubungan kawasan. Diskusi ini juga menekankan dampak konflik bagi Indonesia.
Risiko yang disorot meliputi lonjakan harga energi, tekanan subsidi BBM terhadap APBN, serta gangguan logistik perdagangan global.
Indonesia disarankan menjalankan diplomasi jembatan (bridging diplomacy) sebagai mediator netral-terbatas, sekaligus memperkuat kemandirian alutsista, ketahanan pangan, dan ketahanan energi”, kata Didin Nasirudin.
Pembicara ketiga, Henry Sianipar, produser media nasional, menegaskan bahwa perang modern kini berlangsung dalam dua dimensi seperti fisik dan digital.
Menurutnya, AI generatif, deepfake, propaganda kreatif, hingga manipulasi algoritma media sosial telah menjadi senjata untuk membentuk persepsi global.
Kondisi ini menciptakan “kekacauan epistemologis” di mana masyarakat sulit membedakan fakta dan rekayasa informasi.
Henry menyimpulkan bahwa dunia bukan sedang menuju perang besar, tetapi sudah memasuki era perang permanen multidimensi.
Seminar ini memperlihatkan bahwa konflik Timur Tengah bukan sekadar isu regional, tetapi fenomena global yang dapat mengguncang stabilitas dunia, termasuk Indonesia”, imbuh Henry Sianipar.
Universitas Sahid menambahkan pentingnya kajian komunikasi sebagai alat membaca krisis internasional
Terutama dalam era perang narasi yang bergerak melalui layar, platform digital, dan teknologi AI.(red)









