Ada filosofi sederhana di balik segelas kopi, jabatan, dan kekuasaan. Tiga hal yang terlihat biasa, tetapi mampu mengungkap karakter seseorang sesungguhnya.
Segelas kopi mengajarkan arti kebersamaan. Di meja sederhana, semua orang bisa duduk sejajar, berbicara tanpa sekat, bertukar pikiran, dan merangkai harapan, Minggu (18/10/26).
Tidak ada pangkat perlu dibanggakan, maupun jabatan jangan dipamerkan. Yang ada hanyalah kepercayaan dan persaudaraan.
Namun, kehidupan sering berubah, ketika jabatan mulai melekat dan kekuasaan berada dalam genggaman.
Orang yang dahulu mudah ditemui, perlahan menjadi sulit dijangkau. Mereka yang dahulu duduk bersama sambil menikmati pahitnya kopi, terkadang berubah sikap, ketika merasa sudah berada di posisi lebih tinggi.
Padahal, jabatan bukan bukti bahwa seseorang lebih mulia, dan kekuasaan bukan alasan untuk merasa lebih hebat daripada sesama.
Jabatan adalah amanah. Kekuasaan adalah tanggung jawab. Keduanya seharusnya digunakan untuk membangun, melindungi, dan memberikan manfaat
Bukan untuk menumbuhkan kesombongan, membungkam perbedaan pendapat, atau melupakan orang-orang yang pernah berjalan bersama dari titik nol.
Dalam perjalanan menuju puncak, banyak tangan yang mungkin pernah membantu. Ada memberikan dukungan, menyumbangkan pemikiran dan bertahan, ketika keadaan belum menjanjikan apa-apa.
“Karena itu, jangan hanya mengingat siapa yang bisa memberikan keuntungan, ketika kita sudah berkuasa.
Ingatlah juga siapa yang pernah menemani, ketika nama kita belum dikenal dan jabatan belum berada dalam genggaman.
Sebab, ukuran kebesaran seseorang bukan terletak pada seberapa banyak orang yang tunduk kepadanya
Melainkan seberapa besar, ia mampu menghargai orang lain tanpa memandang kedudukan.
Kekuasaan bisa membuat seseorang didengar, tetapi hanya integritas yang membuat perkataannya dipercaya.
Jabatan bisa membuka pintu kehormatan, tetapi hanya perilaku yang menentukan apakah kehormatan itu pantas dipertahankan.
Pada akhirnya, segelas kopi akan habis, jabatan akan berganti, dan kekuasaan tidak akan selamanya berada di tangan yang sama.
Waktu akan terus berjalan, sementara setiap sikap dan keputusan meninggalkan jejak yang akan dinilai oleh orang lain.
“Maka, ketika duduk menikmati segelas kopi, belajarlah tentang kesederhanaan. Ketika menerima jabatan, belajarlah tentang tanggung jawab.
Hal ini memegang kekuasaan, belajarlah tentang batas, keadilan, serta kerendahan hati. Jangan sampai ketika berada lebih atas, kita lupa pernah berada di bawah.
Jangan sampai demi mempertahankan kekuasaan, kita kehilangan persahabatan, kepercayaan, dan harga diri.
Maka setinggi apa pun jabatan seseorang, ia tetap manusia biasa. Dan sebesar apa pun kekuasaannya, ia tidak akan mampu membeli ketulusan
Loyalitas yang lahir dari kepercayaan, serta kehormatan tumbuh dari kejujuran. Segelas kopi mengajarkan kebersamaan.
Jabatan menguji tanggung jawab. Kekuasaan mengungkap karakter. Dan waktu akan membuktikan siapa yang benar-benar berintegritas.(red)













