JAKARTA – Kepemimpinan sejatinya tidak semata-mata diukur dari benar atau salah menurut sudut pandang tertentu.
Seorang pemimpin yang bijak dan merakyat adalah sosok yang mampu menjadi teladan, serta menghadirkan nilai-nilai kebajikan bagi masyarakat.
Di tengah perbedaan pandangan yang kerap mewarnai kehidupan berbangsa, hal yang lebih penting adalah bagaimana seluruh elemen masyarakat
Bersama-sama mencerdaskan generasi penerus, dengan menanamkan etika, moral dan karakter yang baik.
Pendidikan etika dan moral menjadi fondasi utama dalam membentuk anak bangsa yang memiliki rasa hormat, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Sebab, kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kualitas akhlak dan kepribadian bermasyarakat”, ujar Agus Kliwir, Dirut PT. MNS Grub Pers & PT. SMGC kepada wartawan saat diskusi, Rabu (17/6/26).
Pemimpin yang dekat dengan rakyat akan selalu mengedepankan sikap bijaksana, mendengar aspirasi masyarakat, serta memberikan contoh baik dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, tercipta suasana yang harmonis dan saling menghargai di tengah keberagaman.
Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, perbedaan tersebut hendaknya menjadi sarana untuk memperkuat persatuan, bukan justru memecah belah bangsa.
Semangat gotong royong, toleransi, dan saling menghormati harus terus ditanamkan kepada generasi muda, sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Melalui pendidikan karakter yang kuat, Indonesia diharapkan dapat melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati nurani
Untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta senantiasa berpihak kepada kepentingan rakyat”, lanjutnya.
Pada akhirnya, kebijaksanaan seorang pemimpin tercermin dari kemampuannya merangkul seluruh lapisan masyarakat dan menjadikan etika serta moral
Sebagai landasan dalam membangun bangsa yang maju, adil dan sejahtera”, pungkasnya.(red)













